Syarifah Nurafilah Iryan, S.H.


PHOTO: Mie-Gacoan Visit Seasia

Dalam perkembangan dunia bisnis kuliner, para pelaku usaha menggunakan ide-ide baru agar produk yang ditawarkan dapat menarik minat konsumen. Salah satu ide yang sering digunakan oleh pelaku usaha bisnis kuliner yaitu menggunakan nama-nama yang memberi kesan unik. Merek “Mie Gacoan” menjadi salah satu kuliner mie pedas yang popular pedas di kalangan pecinta makanan pedas yang menggunakan nama-nama seperti Mie Iblis, Mie Setan, Es Genderuwo, Es Tuyul, Es Sundel Bolong, dan Es Pocong pada menunya. Namun, sayangnya Mie Gacoan sempat mengalami kendala ketika hendak mengajukan permohonan sertifikasi halal MUI atas produknnya. Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetik (LPPOM) MUI sebelumnya tidak memberikan sertifikasi halal pada Mie Gacoan karena alasan penamaan menu. LPPOM MUI menilai nama-nama menu yang digunakan oleh Mie Gacoan mengarah pada sesuatu yang haram, kurang etis, vulgar, dan bermuatan mistik.

Dalam hal pemberian sertifikasi halal MUI pada suatu produk, LPPOM MUI tidak hanya memperhatikan perihal kandungan dan proses pengolahan, namun juga penamaan suatu produk atau merek. LPPOM MUI dalam artikelnya menyatakan bahwa merek atau nama produk tidak boleh menggunakan nama yang mengarah pada sesuatu yang diharamkan atau ibadah yang tidak sesuai dengan syariah islam. Kriteria nama-nama produk yang tidak bisa mendapatkan sertifikat halal menurut SK LPPOM MUI No: SK46/Dir/LPPOM MUI/XII/14 adalah sebagai berikut :

  • Nama produk yang mengandung nama minuman keras, seperti rootbeer, es krim rhum raisin, dan sebagainya;
  • Nama produk yang mengandung nama babi dan anjing serta turunannya, seperti hamburger, beef bacon, hotdog, dan sebagainya;
  • Nama produk yang mengandung nama setan dan semacamnya, seperti mie setan, es kuntilanak, dan sebagainya;
  • Nama produk yang mengarah kepada hal-hal yang menimbulkan kekufuran dan kebatilan, seperti cokelat valentine dan sebagainya; dan
  • Nama produk yang mengandung kata yang berkonotasi erotis, vulgar, atau porno, seperti susu tante girang, kue bohay, dan sebagainya.

LPPOM MUI lebih lanjut menyatakan bahwa ketentuan tersebut mengecualikan produk yang telah mentradisi, dikenal secara luas dan dipastikan tidak mengandung unsur-unsur yang diharamkan seperti nama bir pletok, bakso, bakmi, bakwan, bakpia dan bakpao.

.

Sumber Hukum :